Kopi, teh atau borgol? – Oz Journalist’s US Nightmare

Kopi, teh atau borgol? – Oz Journalist’s US Nightmare

Sue Smethurst nikmati perjalanan. Itu salah satunya soal mengenai pekerjaan saya yang begitu saya senangi, “kata pria Australia berumur 30 tahun itu, yang kerja jadi associate editor buat majalah wanita New Idea. Ia bahkan juga tidak keberatan terbang.” Ini salah satunya yang hebat.

Tapi sewaktu penerbangan Qantas-nya dari Melbourne, Australia, datang di LAX lebih kurang waktu 8 pagi dalam hari Jumat, 14 November, Smethurst rasakan dianya sendiri begitu geram – oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Smethurst semestinya meneruskan ke New York serta dalam hari Senin wawancarai vokalis Olivia Newton-John. Smethurst berbulan madu di Manhattan tahun kemarin serta mengharapkan pekan akhir yang panjang serta bebas jalan-jalan di Central Park, mendapat satu mangkuk sup ayam yang pantas serta belanja Natal – semua beberapa hal New York yang indah. ”

Lebih baik , singgahnya sepanjang enam jam di L.A.

Namun pertama kali ia mesti bersihkan check-in imigrasi LAX, yang ia gapai sesudah 20 menit dalam antrean. Seseorang petugas dari biro Bea Cukai serta Perlindungan Tepian (CBP) yang baru diciptakan DHS pelajari formulir pengakuan turis yang udah diisi Smethurst di pesawat.

Baca Juga : Keheningan Domba: Kegagalan Jurnalisme A.S.

“Oh, kamu seseorang jurnalis,” ujarnya. “Kamu di sini buat apa?”

“Saya bakal wawancarai Olivia Newton-John,” jawab Smethurst.

“Itu bagus,” kata petinggi itu, berkesan. “Mengenai apa artikelnya?”

“Kanker payudara.”

Sewaktu Smethurst mengemukakan perihal ini pada saya, ia berhenti serta memasukkan, “Saya fikir pertanyaan paling akhir itu rada aneh, tapi saat ini semua udah tidak sama di Amerika serta itu baik-baik saja.” dengan sup ayam serta jalan-jalan di Central Park, udah distop demikian ia meyakinkan ia seseorang jurnalis.

Empat belas jam lalu, ia dikawal oleh tiga penjaga bersenjata ke jam 11 malam. Penerbangan pulang Qantas.

“Saya mau mengemukakan langsung jika saya memuja Amerika serta menyintai orang Amerika,” kata Smethurst. Tapi, ia terus bingung serta dengan emosional memar oleh apa yang berlangsung di Terminal Empat.

Agen CBP yang membaca quesioner pelancong Smethurst membawanya ke ruang peninjauan sekunder 30 kaki jauhnya serta memerintahnya tunggu, setelah itu pergi sepanjang 1/2 jam. Ia kembali dengan staf memakai seragam penambahan yang, dengan profesional serta cukup menyenangkan, ajukan lebih beberapa pertanyaan.

Narasi jenis apa yang ia catat? Majalah jenis apakah itu Gagasan Baru?

Dimana itu diluncurkan? Apa peredarannya? Apa dia membuat artikel yang peka dengan politis? Kapan wawancaranya nampak? Siapa yang bakal membacanya?

“Saya ketawa,” kenang Smethurst, lantaran kami merupakan persilangan di antara Good Housekeeping serta majalah People. “Soal paling politis yang peluang bakal kita buat merupakan horoskop Laura Bush.”

Investigasi yang sopan bersambung. Siapa ayahnya? Tugasnya? Nama serta pekerjaan gadis ibunya? Apa tanggal lahir mereka, dimana mereka tinggal?

Banyak agen mengangguk serius pada balasan Smethurst serta pergi lagi, janji buat kembali. Sewaktu mereka kembali 1/2 jam lalu, salah satunya petugas tawarkan satu cangkir kopi lapangan terbang pada Smethurst.

“Saya fikir pada step itu ada suatu hal yang salah,” kata Smethurst, “jadi saya ajukan pertanyaan pada lelaki yang bawa kopi itu adakah soal.”

“Saya bakal memberitahumu sewaktu ada soal,” ia mendadak menyentak, menurut Smethurst. Lalu ia menunjuk ke isyarat paling dekat:

Keheningan Anda Dihargai

Lebih kurang tengah hari, CBP memberi kabar Smethurst jika ia bakal tidak diterima masuk ke Amerika Serikat: Sesaat pelancong Australia yang bertandang ke Amerika Serikat dibebaskan dari visa sepanjang 90 hari, jurnalis yang kerja memerlukan I-Visa pribadi, yang belum diketahui serta dijalankan oleh Smethurst. tidak punya. Bagaimanapun juga, ia udah terbang ke LAX dengan paspor yang sama delapan kali awal mulanya tidak dengan kejadian. Saat ini ia disuruh buat membawa tangan kanannya serta bersumpah jika jawabannya udah benar, lalu diambil sidik jari serta difoto – setiap waktu ia ada ke Amerika, paspornya yang digesek bakal menimbulkan dokumentasi penolakannya. Sewaktu jari-jari Smethurst yang bertinta digelindingkan ke formulir pemerintahan, ia melihat judulnya:

“Pidana.”

Pada akhirnya ia dikawal dibawah pengawal bersenjata ke telephone umum buat melaksanakan panggilan yang ia percayai dengan buang waktu bakal membereskan semua serta biarkan tinggal di negara itu. Lalu, sesaat perbincangan berlangsung pada suaminya, editor serta petugas konsul di L.A., bagasi Smethurst digeledah secara detail serta satu tas rias sesaat diambil. Ia lalu diborgol serta berbaris lewat lapangan terbang ke terminal lain, dimana pusat penahanan khusus LAX ada.

Social share